Minggu, Desember 26, 2010

(INDONE+MALAY) SIA

"Kita telah bertetangga semenjak kita ada, mengapa malah seringkali kita ribut tak karuan?"

          Bukankah sejak SD telah diajarkan untuk berhubungan baik dengan tetangga? karena orang yang paling cepat dapat menolong kita jika terjadi sesuatu adalah tetangga, seharusnya kita dapat menjaga hubungan baik tersebut. Tetangga seharusnya berbagi, mengerti, dan hidup saling menghargai satu sama lain, tapi mengapa yang terlihat justru berbeda? Indonesia dengan Malaysia, Korea Utara dengan Korea Selatan, (dahulu kala) Jerman Barat dan Jerman Timur, apa yang salah dengan kita semua? Tidakkah kita bisa menahan ego masing-masing demi kehidupan yang damai dan sejahtera?
          Pertanyaan "mengapa kita tidak bisa hidup akrab dengan Malaysia, padahal mereka kan tetangga kita?" telah saya tanyakan kepada Papah saya, dan jawaban yang dia lontarkan adalah "Iya, mereka usil sih, pulau kita aja udah dua diakuin sama mereka." Ya, itu memang alasan kebanyakan orang. Namun, saya sangat penasaran dengan pembelaan rasional dari mereka? Tidakkah mereka punya? Apakah alasan yang melatarbelakangi perbuatan mereka tersebut? Padahal, negara mereka lebih maju dari negara kita secara umum, lalu, apakah tuduhan-tuduhan tersebut benar?
          Banyak orang yang langsung berpendapat tanpa meneliti terlebih dahulu. Bukan berarti saya mau memihak siapa-siapa, namun saya hanya berusaha netral dengan status Hamba Tuhan. Saya memang Bangsa Indonesia, namun saya juga Rumpun Melayu, saya pun adalah Penduduk Dunia, lalu apa alasan saya untuk benci pada Malaysia? Tidak ada.
          Mungkin sebagian besar penduduk Indonesia marah karena miliknya diaku-aku oleh negara lain, namun apakah kita sediri telah berkaca? Pernahkah kita menghargai, merawat, dan menjaga milik kita tersebut sebelumnya? Sebelum diaku-aku oleh negara lain? Banyak hal yang sebelumnya kita abaikan, lalu seperti kebakaran jenggot ketika hal tersebut ingin diambil oleh negara lain, seperti anak kecil yang sebenarnya telah bosan dengan suatu mainan, namun meraung raung ketika mainan tersebut ingin dimainkan oleh anak lain, yah itu hanya analogi kecil saja.
          Saya sangat bahagia ketika mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai salah satu warga Malaysia yang juga kuliah di Universitas Padjajaran (UnPad), ketika itu sedang ramai-ramainya konflik perebutan kebudayaan antara Malaysia dengan Indonesia. Saya pun menanyakan hal tersebut, jawaban dari mereka adalah suatu jawaban yang melegakan hati saya, mereka menyatakan bahwa mulanya mereka takut akan  dikucilkan, namun nyatanya, TIDAK! Mereka dapat hidup tenang dan nyaman di Jatinangor (kota kediaman UnPad). Mereka berkata bahwa tidak ada yang berubah, teman-teman di kampus mereka pun memperlakukan mereka seperti biasa, tidak ada yang menyudutkan mereka hanya karena mereka berkebangsaan Malaysia. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya kita BISA! Kita bisa untuk hidup damai, hidup dengan menggunakan hati nurani, tidak membesar-besarkan suatu masalah, dan berpikir secara rasional.
          Sebenarnya, banyak hal yang bisa dilakukan bersama, berbagi disini bukan berarti kita berbagi kepemilikan, tapi berbagi untuk memakainya bersama sama, secara adil dan bijaksana. Masih banyak masalah yang harus dipikirkan daripada sekedar bermusuhan kan. Seperti ketika saya mengetik post ini, warga Indonesia yang menonton pertandingan final AFF babak pertama sedang rusuh masalah laser yang digunakan oleh warga Malaysia yang sedang menonton disana, mereka menyorotkan laser itu kepada para pemain, yang kemungkinan besar akan mengganggu kinerja permainan para pemain. Bahkan, saya mendengar dari siaran televisi, ada petasan yang dimainkan di dalam stadion. Mengapa mereka melakukan itu? Saya pun tidak tahu, namun saya berharap bahkan dalam suatu pertandingan olahraga yang menjunjung tinggi sportifitas, kita dapat saling menghargai, menunjukkan harga diri yang dimiliki oleh masing-masing negara.
          Apakah kalian, siapapun kalian, dari golongan apapun, usia berapapun, dapat menjunjung tinggi harga diri yang kalian punya? Bukan harga diri yang sekedar melanturkan omong kosong tentang saling mendendam, namun harga diri yang mempertahankan akal sehat dan budi pekerti yang baik. Sikap yang santun, dan kemampuan untuk menghargai satu sama lain. Dapatkah kalian? Mampukah? Ini adalah sebuah tantangan dari seorang perempuan biasa yang tidak membawa nama suku, agama, rumpun, atau bangsa apapun, hanya seorang perempuan biasa yang ingin hidup damai sampai tiba saatnya dia untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di hadapan TUHAN.




selamat bersenang senang semuanya, tunjukkan semangat juang kalian! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please be kind and respectful.