Sabtu, April 02, 2011

Genit?

Hmm, akhir-akhir ini ada yang mengatakan hal itu kepada saya,
"ih, uus genit nih."
Yang mengatakan itu adalah salah satu teman saya, sepertinya lelaki, saya tidak terlalu ingat. Kata-kata itu dia lontarkan ketika saya sedang merentangkan tangan lebar-lebar meminta dipeluk oleh salah seorang teman saya, yang kebetulan adalah seorang lelaki. Saya agak bingung sebenarnya, kenapa saya genit?

Saya memang sering sekali memeluk teman teman saya, perempuan dan beberapa laki-laki yang memang dekat dengan saya. Kenapa? Saya suka dipeluk, apalagi oleh teman-teman saya, saya suka rasanya yang seperti memiliki banyak kakak dan abang. Itu menyenangkan sekali lah.

Sampai saat ini, saya memang belum pernah merasakan suka terhadap seseorang yang sudah melewati akal manusia waras (karena menurut saya, cinta itu seringkali membuat orang menjadi tidak waras). Mungkin, dipengaruhi hal itu, saya menganggap hampir semua teman dekat saya yang laki-laki sebagai abang saya. Saya memang tidak menganggap semua teman perempuan saya sebagai kakak atau adik saya, hanya segelintir dari mereka yang saya anggap seperti itu. Mengapa? Karena kebanyakan teman perempuan saya sejalan dengan saya, memiliki pemikiran-pemikiran sendiri yang lebih kompleks dan kata 'teman dekat' lebih menggambarkan mereka, saya sering dimanja oleh mereka, namun rasanya saya lebih sering memanjakan mereka, saya sangat senang, sangat menyayangi teman teman perempuan saya.

Lalu, mengapa saya menganggap kebanyakan teman dekat saya yang laki-laki sebagai abang saya? Saya sebenarnya tidak terlalu mengerti, tapi diasumsikan karena saya tidak memiliki saudara lelaki. Ayah dan Ibu saya menghasilkan tiga anak perempuan dengan saya sebagai penutup. Jarak umur saya dengan kedua kakak saya mencapai delapan dan sebelas tahun. Seringkali saya seperti mempunyai tiga orang mama, karena kedua kakak saya jauh lebih tua dan sudah sering mengurus saya, seringkali secara finansial.

Pada intinya, saya tidak memiliki satu pun abang atau adik laki-laki, saya tidak terlalu dekat dengan sepupu-sepupu saya yang laki-laki, tidak ada peran saudara laki-laki dalam kehidupan keluarga saya. Kemungkinan besar, hal inilah alasan mengapa saya sangat senang bermain, selain dengan teman perempuan saya, juga dengan teman laki-laki saya.

Terkadang pada beberapa kejadian, beberapa teman laki-laki saya mengatakan bahwa mereka berteman dengan saya, tetapi tidak seperti berteman dengan perempuan, sebagian dari mereka menganggap saya seperti teman laki-laki mereka. Hmm, mungkin itu menyedihkan, karena saya perempuan tulen. Namun, hingga kini saya tidak pernah merasa sedih karena hal itu, mungkin sekali-kali memang saya mengeluh dan mengatakan bahwa saya ini perempuan juga loh. Pada akhirnya hal itu memang tidak membuat saya pernah sedih sekali, karena saya merasa tidak masalah kok, sebagaimanapun mereka menganggap saya teman laki-laki mereka, mereka tidak pernah kasar sama saya, ya bisa dibilang jarang sekali lah, saya juga baik-baik saja dan tetap merasa senang, jadi untuk apa saya harus memusingkan hal semacam itu? buang-buang waktu saja rasanya.

Kesimpulannya,
"saya itu bukannya genit, saya hanya anak perempuan bungsu yang manja."
Saya sangat berterima kasih kepada semua teman dekat perempuan dan laki-laki saya, yang mau mengerti seperti apa saya, bagaimana saya, paling tidak, tidak pernah melarang saya untuk menjadi diri saya sendiri. Saya sangat menghargai kalian layaknya kalian yang serta merta menjaga saya.

Saya sangat sayang kalian 

2 komentar:

  1. halo uus genit, hehe.
    gw juga sering dibilang gitu.
    dan gw udah ga kesel, karena gw emang doyan meluk dan itu tanda sayang gw.

    jadi ya biarkan saja orang-orang itu bilang apa, yang penting mah kita nyaman dan meluk atau dipeluk itu nyaman ko walaupun kadang lo berat.
    hehe.

    BalasHapus
  2. iya gw gak kesel kok, cuman aneh aja, apakah memang gw telah menjadi genit? jeng jeng, ngak cin, beratnya gw itu mewakili seberapa besar rasa sayang gw ke lo, yakin deh yakin

    BalasHapus

Please be kind and respectful.